Rabu, 13 November 2013

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN



1.      3 Aturan dalam budaya bertelepon
a.    Courtesy
Menurut National Educational Media Incorporated (NEM) courtesy adalah “It’s a way of thinking about how you treat another person.”
Courtesy merupakan suatu tanggapan yang muncul pada saat seseorang berhubungan dengan orang lain. Disini pikiran yang bersih dan pola pikir yang positif akan sangat membantu. Kebiasaan berpikir positif akan dapat memunculkan kebiasaan yang positif, baik didalam mengutarakan pendapat ataupun dalam bertindak.
Aturan ini berkenaan dengan kesopanan dan tata karma. Segala kegiatan dalam aspek kehidupan memiliki Coutesy tersendiri, yang berbeda dan unik. Sehingga dapat disimpulkan Courtesy Bertelepon adalah segala bentuk sikap dan hasil karya yang didasari oleh pola pikir yang positif yang menjiwai pelayanan dalam menggunakan media perantara untuk berkomunikasi, yang mengakibatkan antara penelepon dan yang ditelepon timbul rasa senang dan empati.

b.    Clarity
Adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan, pada saat kita berkomunikasi melalui telepon. Sehingga tidak menimbulkan multi-interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Aturan Clarity ini bergantung pada kualitas suara kita dan bahasa yang kita gunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti, akan membuat isi dari pesan kita tidak dapat mencapai tujuannya. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya Clarity, sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan.
Beberapa cara untuk menyiapkan pesan dalam bertelepon agar jelas yaitu:

1.       Tentukan goal-tujuan yang jelas.
2.       Penuhi tuntutan kebutuhan format bahasa yang kita pakai.
3.       Buat pesan Anda jelas, tepat dan meyakinkan.
4.       Pesan yang disampaikan harus fleksibel.
5.       Pada saat bertelepon, berbicara dengan pelan (jangan terlalu pelan).



c.    Brevity
Adalah tentang keringkasan dari pesan yang kita sampaikan. Pada saat bertelepon, secara tidak langsung kita melakukan komunikasi secara verbal, Faktor yang memberikan kontribusi dalam komunikasi verbal supaya efektif adalah keringkasan pesan yang disampaikan.Komunikasi dikatakan efektif jika disampaikan dengan cara yang sederhana, ringkas dan padat, dan langsung pada topik yang dibicarakan (tidak bertele-tele kalau dalam bertelepon). Semakin singkat kata yang digunakan, semakin mengurangi kebingungan yang timbul, karena variabel dalam diri seseorang (Intrapersonal Variables) juga terlibat dalam komunikasi.

2.a  Apa yang dimaksud dengan kejujuran adalah yang paling mendasar
Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.
Kejujuran itu merupakan suatu sifat dalam diri individu, yang sudah menempatkan sesuatu pada tempat maupun waktu yang semestinya dan juga representatif.
Dalam melakukan suatu kegiatan atau aktivitas, kejujuran lah yang mampu memberikan penilaian bagaimana kegiatan atau aktivitas itu, apakah mampu? atau tidak mampu?. Yang utama untuk mampu memberikan hasil positif adalah bagaimana seseorang itu memberikan kejujurannya kepada dirinya sendiri sesuai dengan hati nurani sampai yang terkecil. Kita bisa bilang saja tidak mampu untuk melakukannya, tapi dalam hati kita, berkata padahal kalau berusaha pasti bisa. Tentunya itu sudah membohongi dirinya sendiri. Tetapi Apabila kejujuran itu kita realisasikan, tentunya dalam melakukan berbagai aktivitas pun akan mampu melewatinya. Kejujuran ini merupakan suatu stimuli pendorong timbulnya motivasi dalam diri, sehingga kejujuran itu merupakan hal yang paling mendasar dalam melakukan suatu kegiatan atau aktivitas.

2.b  Kenapa para praktisi PR harus menerapkan ke-PR-an terhadap dirinya sendiri
PR merupakan suatu profesi yang menghubungkan antara lembaga atau organisasi dengan publiknya yang ikut menentukan kelangsungan hidup lembaga tersebut. Karena itu PR berfungsi menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen, memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi. PR pada dasarnya menciptakan kerjasama berdasarkan hubungan baik dengan publik. Dalam PR dibedakan dua macam publik yang menjadi sasaran yakni publik internal dan eksternal.Menurut Dozier (1992) peranan praktisi humas dalam organisasi merupakan salah satu kunci penting untuk pemahaman akan fungsi public relations dan komunikasi organisasi disamping sebagai sarana pengembangan pencapaian profesionalitas dari praktisi humas.
Secara sederhana tugas praktisi kehumasan adalah menjadi penghubung antara lembaga publik dengan masyarakat luas, agar tercapai saling pengertian, kerjasama dan sinergi yang positif antara berbagai pihak yang ada. Dalam konteks lembaga lembaga publik seperti pemerintah, sejatinya peran melayani dan mengembangkan dukungan publik guna mencapai tujuan organisasi-lah yang sangat penting dimainkan oleh praktisi kehumasan. Pada konteks ini, maka praktisi humas harus bisa membentuk nilai-nilai, pemahaman, sikap-sikap, sampai perilaku dari publik agar sejalan dengan kebutuhan organisasi. Melalui pengemasan pesan-pesan komunikasi publik yang lebih banyak berisikan tentang apa dan siapa serta apa manfaat keberadaan organisasi. Pesan-pesan ini dapat dikomunikasikan melalui media massa atau media lain yang dipilih sesuai dengan target sasaran.
Inti dari tugas seorang PR adalah untuk menghubungkan antara komponen satu dengan yang lainnya, sebelum menghubungkan komponen tersebut tentunya hal yang paling utama bagi seorang praktisi PR adalah bagaimana hubungan dengan dirinya sendiri, apakah sudah sejalan? Sudah sesuai?. Bagaimana bisa menghubungkan berbagai komponen apabila hubungan dengan diri sendirinya itu tidak sejalan,tentunya akan sulit untuk mencapai goal dari subjek sebagai penghubungnya. Untuk mampu menilai hubungan dengan dirinya sendiri, perlu membentuk nilai-nilai, pemahaman, sikap-sikap, sampai perilaku apa yang sesuai dengan jati diri dalam diri seorang PR. Sehingga perlu diterapkan terlebih dahulu konsep PR itu terhadap dirinya sendiri, selebihnya ke orang lain.


2.c   Bagaimana menurut Anda, etika seorang praktisi PR menghadapi khalayak.

Ø  Seperti yang disebutkan di atas, bahwa seorang PR itu mampu membentuk nilai-nilai, pemahaman, sikap-sikap, sampai perilaku dari publik agar sejalan dengan kebutuhan organisasi. Melalui pengemasan pesan-pesan komunikasi khalayak yang lebih banyak berisikan tentang apa dan siapa serta apa manfaat keberadaan organisasi. Pesan-pesan ini dapat dikomunikasikan melalui media massa atau media lain yang dipilih sesuai dengan target sasaran.
Ø  Esensi dari aturan bersikap (code of conduct) adalah pada kejujuran dan keadilan.
Ø  Penilaian terhadap diri sendiri, apakah benar atau salah apa yang dilakukan.
Ø  Membimbing publik ke arah yang etis, terhadap akurasi dan kejujuran, serta menjauhi kebohongan melainkan membuka kebenaran.
Ø  Mengasumsikan seorang khalayak itu sebagai suatu instrumen yang paling fatal, dan merupakan pahlawan dalam menyampaikan informasi.

1 komentar:

Anonim mengatakan...
3 Maret 2022 pukul 19.57

Casino Del Sol (W) - Dr. Maryland
The Casino Del Sol is located 남원 출장안마 in the 보령 출장마사지 beautiful Evergreen Mountains in the 거제 출장샵 heart of 과천 출장샵 the scenic Evergreen Mountains in 부산광역 출장샵 Washington State. The casino's 5,000-square-foot

Posting Komentar