PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN
1. 3 Aturan dalam budaya bertelepon
a.
Courtesy
Menurut National Educational Media Incorporated (NEM)
courtesy adalah “It’s a way of thinking about how you treat another person.”
Courtesy merupakan suatu tanggapan yang muncul pada
saat seseorang berhubungan dengan orang lain. Disini pikiran yang bersih dan
pola pikir yang positif akan sangat membantu. Kebiasaan berpikir positif akan
dapat memunculkan kebiasaan yang positif, baik didalam mengutarakan pendapat
ataupun dalam bertindak.
Aturan ini berkenaan dengan kesopanan dan tata karma.
Segala kegiatan dalam aspek kehidupan memiliki Coutesy tersendiri, yang berbeda
dan unik. Sehingga dapat disimpulkan Courtesy Bertelepon adalah segala bentuk
sikap dan hasil karya yang didasari oleh pola pikir yang positif yang menjiwai
pelayanan dalam menggunakan media perantara untuk berkomunikasi, yang
mengakibatkan antara penelepon dan yang ditelepon timbul rasa senang dan
empati.
b.
Clarity
Adalah kejelasan dari pesan yang
kita sampaikan, pada saat kita berkomunikasi melalui telepon. Sehingga tidak
menimbulkan multi-interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Aturan
Clarity ini bergantung pada kualitas suara kita dan bahasa yang kita gunakan.
Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti, akan membuat isi dari pesan kita tidak
dapat mencapai tujuannya. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya Clarity,
sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih
untuk digunakan.
Beberapa cara untuk
menyiapkan pesan dalam bertelepon agar jelas yaitu:
1. Tentukan goal-tujuan yang jelas.
2. Penuhi tuntutan kebutuhan format
bahasa yang kita pakai.
3. Buat pesan Anda jelas, tepat dan
meyakinkan.
4. Pesan yang disampaikan harus
fleksibel.
5. Pada saat bertelepon, berbicara
dengan pelan (jangan terlalu pelan).
c.
Brevity
Adalah tentang
keringkasan dari pesan yang kita sampaikan. Pada saat bertelepon, secara tidak
langsung kita melakukan komunikasi secara verbal, Faktor yang memberikan
kontribusi dalam komunikasi verbal supaya efektif adalah keringkasan pesan yang
disampaikan.Komunikasi dikatakan efektif jika disampaikan dengan cara yang
sederhana, ringkas dan padat, dan langsung pada topik yang dibicarakan (tidak
bertele-tele kalau dalam bertelepon). Semakin singkat kata yang digunakan,
semakin mengurangi kebingungan yang timbul, karena variabel dalam diri
seseorang (Intrapersonal Variables) juga terlibat dalam komunikasi.
2.a Apa yang dimaksud dengan kejujuran adalah
yang paling mendasar
Jujur jika diartikan
secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang
sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara
hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan
atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang
terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika
seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak
mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap
atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.
Kejujuran itu merupakan
suatu sifat dalam diri individu, yang sudah menempatkan sesuatu pada tempat
maupun waktu yang semestinya dan juga representatif.
Dalam melakukan suatu
kegiatan atau aktivitas, kejujuran lah yang mampu memberikan penilaian
bagaimana kegiatan atau aktivitas itu, apakah mampu? atau tidak mampu?. Yang
utama untuk mampu memberikan hasil positif adalah bagaimana seseorang itu
memberikan kejujurannya kepada dirinya sendiri sesuai dengan hati nurani sampai
yang terkecil. Kita bisa bilang saja tidak mampu untuk melakukannya, tapi dalam
hati kita, berkata padahal kalau berusaha pasti bisa. Tentunya itu sudah
membohongi dirinya sendiri. Tetapi Apabila kejujuran itu kita realisasikan,
tentunya dalam melakukan berbagai aktivitas pun akan mampu melewatinya.
Kejujuran ini merupakan suatu stimuli pendorong timbulnya motivasi dalam diri,
sehingga kejujuran itu merupakan hal yang paling mendasar dalam melakukan suatu
kegiatan atau aktivitas.
2.b Kenapa para praktisi PR harus menerapkan
ke-PR-an terhadap dirinya sendiri
PR merupakan suatu
profesi yang menghubungkan antara lembaga atau organisasi dengan publiknya yang
ikut menentukan kelangsungan hidup lembaga tersebut. Karena itu PR berfungsi
menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen, memberikan pengertian,
menumbuhkan motivasi dan partisipasi. PR pada dasarnya menciptakan kerjasama
berdasarkan hubungan baik dengan publik. Dalam PR dibedakan dua macam publik
yang menjadi sasaran yakni publik internal dan eksternal.Menurut Dozier (1992)
peranan praktisi humas dalam organisasi merupakan salah satu kunci penting
untuk pemahaman akan fungsi public relations dan komunikasi organisasi
disamping sebagai sarana pengembangan pencapaian profesionalitas dari praktisi
humas.
Secara sederhana tugas
praktisi kehumasan adalah menjadi penghubung antara lembaga publik dengan
masyarakat luas, agar tercapai saling pengertian, kerjasama dan sinergi yang
positif antara berbagai pihak yang ada. Dalam konteks lembaga lembaga publik
seperti pemerintah, sejatinya peran melayani dan mengembangkan dukungan publik
guna mencapai tujuan organisasi-lah yang sangat penting dimainkan oleh praktisi
kehumasan. Pada konteks ini, maka praktisi humas harus bisa membentuk
nilai-nilai, pemahaman, sikap-sikap, sampai perilaku dari publik agar sejalan
dengan kebutuhan organisasi. Melalui pengemasan pesan-pesan komunikasi publik
yang lebih banyak berisikan tentang apa dan siapa serta apa manfaat keberadaan
organisasi. Pesan-pesan ini dapat dikomunikasikan melalui media massa atau
media lain yang dipilih sesuai dengan target sasaran.
Inti dari tugas seorang
PR adalah untuk menghubungkan antara komponen satu dengan yang lainnya, sebelum
menghubungkan komponen tersebut tentunya hal yang paling utama bagi seorang
praktisi PR adalah bagaimana hubungan dengan dirinya sendiri, apakah sudah
sejalan? Sudah sesuai?. Bagaimana bisa menghubungkan berbagai komponen apabila
hubungan dengan diri sendirinya itu tidak sejalan,tentunya akan sulit untuk
mencapai goal dari subjek sebagai penghubungnya. Untuk mampu menilai hubungan
dengan dirinya sendiri, perlu membentuk nilai-nilai, pemahaman, sikap-sikap,
sampai perilaku apa yang sesuai dengan jati diri dalam diri seorang PR.
Sehingga perlu diterapkan terlebih dahulu konsep PR itu terhadap dirinya
sendiri, selebihnya ke orang lain.
2.c Bagaimana menurut Anda, etika seorang
praktisi PR menghadapi khalayak.
Ø
Seperti
yang disebutkan di atas, bahwa seorang PR itu mampu membentuk nilai-nilai,
pemahaman, sikap-sikap, sampai perilaku dari publik agar sejalan dengan
kebutuhan organisasi. Melalui pengemasan pesan-pesan komunikasi khalayak yang
lebih banyak berisikan tentang apa dan siapa serta apa manfaat keberadaan organisasi.
Pesan-pesan ini dapat dikomunikasikan melalui media massa atau media lain yang
dipilih sesuai dengan target sasaran.
Ø
Esensi
dari aturan bersikap (code of conduct) adalah pada kejujuran dan keadilan.
Ø
Penilaian
terhadap diri sendiri, apakah benar atau salah apa yang dilakukan.
Ø
Membimbing
publik ke arah yang etis, terhadap akurasi dan kejujuran, serta menjauhi
kebohongan melainkan membuka kebenaran.
Ø
Mengasumsikan
seorang khalayak itu sebagai suatu instrumen yang paling fatal, dan merupakan
pahlawan dalam menyampaikan informasi.
1 komentar:
Casino Del Sol (W) - Dr. Maryland
The Casino Del Sol is located 남원 출장안마 in the 보령 출장마사지 beautiful Evergreen Mountains in the 거제 출장샵 heart of 과천 출장샵 the scenic Evergreen Mountains in 부산광역 출장샵 Washington State. The casino's 5,000-square-foot
Posting Komentar